[catatan pinggir]

ReviewReviewReviewReviewRahasia Menjadi Kaya Sejak Usia MudaJul 12, '08 1:55 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:'Josua' Iwan Wahyudi
Buku bagus!
Layout dan desainnya bikin mata gw kenyang. Tapi yg lebih mujarab lagi adalah simple move di setiap akhir babnya. Bahasanya ga bikin pusing seperti buku keuangan atau motivasi yang sudah beredar.

Bintang empat... hm, karena harganya lumayan premium. Kira-kira dua kali isi bensin sepeda motor full tank lah. Huhuh.

Mengapa teman-teman (atau kita sendiri) yang pintar dan meraih ranking di masa sekolah kini bekerja sebagai karyawan di perusahaan yg dimiliki bekas anak badung?
Akhirnya setelah 11 tahun lebih, buku ini memberi gw jawabannya. Heheh...

Intip juga blog penulisnya di http://www.getyourwisdom.com.


ReviewReviewReviewReviewMedleyNov 26, '07 1:08 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Film brengsek. Jleb! Jleb! Dalem banget.
Medley memang menyentil (oh gw rasa ga cuma menyentil... menohok, ya menohok!) ego laki-laki. Usai menonton film ini, rasanya gw menggenggam erat tangan si pasangan lebih erat. Ah, rasanya membuat sinopsis atau review akan sia-sia, mending nonton aja. Ga rugi kok. Ga cuma buat kaum adam, tapi juga akan memperluas pandangan perempuan tentang mahluk laki-laki ;)

Terkutuklah kau Nico Wijaya!!

Dan sejuta badai topan buat Yosi... ciuman belasan detik dgn Rachel Maryam apa rasanyaaaaa?? Damn damn daaammmmnn...


Tautan trailer Medley: http://www.youtube.com/watch?v=G3aHMT2LBis


ReviewReviewReviewReviewReviewKenapa Mau Kerja di Agency?Oct 13, '06 2:40 AM
for everyone
Category:Other
Berikut 9 alasan kerja di advertising yang sering gue denger dari orang-orang beserta penyangkalan sinis yang selama ini gue simpen dalam hati. Sorry boys, I am an honest bitch. Brutally honest.

1. PENGEN BELAJAR IKLAN
Dari pengalaman gue, hampir gak ada CD-CD atau bahkan ECD-ECD yang mau ngajarin anak-anak buahnya. Palingan mereka cuma bilang "ini bagus itu jelek, ini ok, ini basi, ini kreatif, itu gak kreatif, bla bla bla!" Abis itu mereka sibuk ngerjain proyek mereka sendiri. Es-Je bo! Gak bohong.

2. PENGEN BIKIN IKLAN
Bo'ong banget! Semua orang bisa bikin iklan! Bu Gito aja bisa bikin iklan. Coba liat jaman dulu, mana ada biro iklan sih? Tapi toh ada aja iklan. Dan kita harus terima kenyataan, banyak iklan jaman baheula yang lebih bagus, lebih variatif, lebih jujur dan lebih berkelas daripada iklan-iklan masa kini.
Jadi, kalau alasan loe pengen kerja di advertising agency karena mau bikin iklan... ergh... mending gak usah.

3. PENGEN MENANG AWARD
Untuk menang award, gak harus kerja di advertising agency atau award winning advertising agency. Bikin aja iklan sendiri. Sekarang perorangan udah bisa ikutan kok. Ngalahin agency lokal atau multinasional? Bisa banget! Percaya sama gue.

4. PENGEN FUNKY GETU LOH!
Plis deh! Ke-funky-an dan keseruan dunia iklan itu cuma ada pas malam minggu atau malam citra pariwara yang makin tahun makin basi anyway... Dalam sehari-hari tetep aja dimaki-maki klien, begadang sampe pagi, kelaperan dan kecapean malem-malem. Bagus kalau dikasih makan sama kantor. Kalau enggak, makan tuh nasi goreng tek tek sampe enek.

5. PENGEN BIKIN CAMPAIGN
Hare gene? Boys, klien hari gini lagi pada susah duitnya. Bikin campaign itu gak murah. Udah 10 tahun belakangan ini, campaign cuma ada pas presentasi pertama aja atau pitching. Abis itu, ini gak usah itu gak usah. Bikin print aja ya, 1/4 halaman aja... BW! Semua proposal campaign boleh ditumpuk di pojokan. Atau kalau rajin masukin aja ke tas porto.

6. PENGEN KAYA
Kalau pengen kaya, jualan pisang goreng pontianak bisa jadi lebih menguntungkan. Mau bukti kalau iklan gak bisa bikin kaya? Cari majalah Forbes yang setiap tahun melansir 100 orang terkaya di dunia. Cari dan hitung ada berapa orang iklan di sana. Sayang, yang kayanya itu holding companynya. WPP misalnya. Kita-kitanya mah... Kalau misalnya semalam para pemilik saham WPP bilang, itu kayaknya agency di Jakarta ditutup aja deh, bo cuan! Ya sudah... kita bukan cuma miskin, pengangguran sekalian.

7. PENGEN TERKENAL
Ok deh kaka! Tolong sebutin siapa orang iklan terkenal? Fajar Rusli? Kepra? Pulang, tanya ke nyokap, bokap, satpam atau Mbak Pargi. Kenal gak mereka sama nama-nama itu. Atau iseng-iseng kalau pas lagi naik mikrolet. Cari tempat duduk deket sopir. Terus pelan-pelan, tepuk pundaknya, tanya "Mas, kenal Roy Wisnu gak?" Silakan...

8. PENGEN JADI YANG LAIN
Eits jangan salah! Banyak loh orang masuk iklan buat jadi jembatan. Sebenarnya pengen jadi bintang iklan, penyanyi, film director, bintang film dan lain-lain. Cuma karena gak kesampean atau kurang berbakat, ya udah... masuk di agency aja dulu deh. Kali-kali ada talent hunter yang menemukan mengorbitkan gue. Sah-sah aja sih alasan yang ini. Tapi biasanya mereka biasa-biasa aja pas kerja soalnya advertising bukan yang mereka mau.

9. PENGEN HIDUP TENANG
Ya... setidaknya gue dapet gaji tiap akhir bulan. Apa bedanya sama benalu ya? Tau nebeng untuk nyedot duit doang tapi gak ngasih kontribusi apa-apa. Gak ada bedanya kerja di advertising sama bidang lain. Yah mendingan kerja di bank lebih teratur hidupnya. Bisa ke gym setiap hari.

Waktu dulu gue nulis "Unhappy People of A Happy Industry" tak kurang seorang Gandhi Suryoto bertanya dengan sinis ke gue "Loe tipe yang mana?" Jawaban gue gampang "I am happy!"

Nah sebelum ada yang nanya "alasan loe apa kerja di industry advertising?" biarkan gue menjawabnya dulu. Jawaban gue "PENGEN HIDUP AJA." Eksistensi gue ada di dunia iklan. Tanpa dunia iklan, gue ngerasa gak lengkap sebagai manusia. Tanpa dunia iklan gue gak bisa ngapa-ngapain lagi. Tanpa dunia iklan, gue gak lebih dari raga tanpa sukma.

Penulis : Glenn Marsalim

Category:Other
Sewaktu gue masih jadi karyawan, setiap kali berhubungan dengan Production House (PH), gue selalu merasa ada yang janggal. Gak tau apa. Tapi gue ngerasa ada yang gak bener dengan hubungan kita. Bisa jadi, bisa jadi banget, cuma gue aja.

Profesi gue sebagai freelancer selama hampir dua tahun ini, agaknya membuka beberapa fakta. Kalau keluhan agency, jelas gue udah tau secara gue pernah di dalamnya. Keluhan PH terhadap agency? Mana mungkin PH mau ngomong. Daripada ribet, udah sesama orang PH aja yang tau. Tapi keluhan itu pasti ada (banyak lagi!). Coba aja baca komen Iman Brotoseno, film director di tulisan gue sebelum ini "fresh thought, beneer banget,..ada tambahan lagi, pengen jadi ' serasa jadi KLIEN '...kalau dealing ke PH, Post...Gw minta pijat refleksi, gw minta nasi campur kenanga, gw minta jemputan mobil, kok gak ada rujaknya pasti syuting ya, buah buahannya kurang fresh nih, ..hm gimana ya maunya efek supersnya kayak iklan itu, eh iklan ini, eh dari referensi ini aja deh ( kok bingung sendiri ).."

Sekarang gue pengen ngebahas beberapa hal yang gue ketahui setelah dengan cermat dan seksama mendengarkan apa kata orang-orang PH soal anak-anak Ahensi.

1. Shooting Itu Kerja Bukan Liburan
Minta disediain makanan inilah itulah. Minta pesawat first class lah. Minta hotel tertentu yang padahal jauh banget dari postnya (dan minta diurusin transportasi pula tentunya). Komplen karena makanan waktu shooting gak enak lah. Minta disediaan (minta loh ya bukan dikasih) tukang pijat waktu shooting. Minta disediain VILLA sendiri yang deket lokasi shooting. Dan ribuan permintaan lain yang gak ada hubungannya sama shootingnya itu sendiri.

Mungkin loe bakal bilang "Lah PH-nya kok yang nawarin! Gue mah terima aja!" Bener sih. Tapi emang loe gak malu ya. PH kan bukan biro travel atau holiday organizer. Daripada PH sibuk ngurusin limo buat ngejemput loe, apa gak mendingan kasih waktu untuk ngurusin lighting? Biar hasil iklan tv-nya makin maksimal.

Dan satu lagi, emang gak malu ya. Kesannya orang iklan itu kampungaaan banget. Memakai kesempatan shooting untuk berlibur.

2. Produser Itu Bukan Pembantu
Produser disuruh bawain 5 botol wine sama anak kreatif sehabis online di Australia. Produser disuruh beli rokok padahal warungnya deket banget sama lokasi shooting. Produser disuruh ngetreat dugem dan psikotropika. Produser disuruh nemenin klien shopping di Singapura sekaligus bayarin makan siang. Produser disuruh bangun tengah malam hanya karena pengen pindah hotel. Produser disuruh ina inu yang lagi lagi gak ada hubungannya sama kerjaannya itu sendiri.

Plis deh bo... Produser kan bukan dayang-dayang yang berdiri dengan kipas bulu-bulu. Tugas mereka memastikan bahwa semua proses berjalan dengan lancar. Dan itu gak gampang. Berada di tengah anak kreatif dan film director misalnya. Dikira enak? Bayangin kalau film directornya Diva sementara itu pilihan anak-anak kreatif sendiri. Berada di tengah klien dan agency. Mereka harus pandai memainkan perannya supaya gak ada yang komplen.

Daripada nyuruh yang enggak-enggak, mending kembalikan tugas mereka. Memastikan semua berjalan lancar. Memastikan apa yang dijanjikan waktu prepro kejadian semua. Memastikan materi terdeliver pas waktunya. Bisa membantu memberi solusi di saat-saat genting. Dan ratusan lagi yang bikin production berjalan lebih lancar.

3. Film Director Itu Bukan Creative Director
Banyak banget anak kreatif yang waktu nyari ide, udah dengan parameter "ah gue pengen pake director anu ah... gayanya asik!" Alhasil, storyline diarahkan supaya bisa pake film director bersangkutan. Cocok atau gak sama briefnya? Gak peduli! Banyak lagi agency yang udah serasa paling tau director-director yang paling pas buat tvc-nya. Padahal, siapa sih yang lebih banyak berhubungan sama film director? Agency atau PH? Kenapa agency minta showreel ke PH kan?

Di atas segalanya, film director adalah orang yang paling tau bagaimana caranya ngeshoot tvc supaya hasilnya maksimal dan seharusnya. Tapi siapa yang lebih tau soal tvc ini? Soal latar belakang tvc ini? Jelas agency. Tapi gimana kalau agency aja gak tau maunya apa? Apalagi kalau film director dianggap memiliki tongkat sakti yang bisa bikin board ancur jadi award winning. Gila aja kan?

Tugas agency belum selesai ketika film director sudah dipilih. Justru baru mulai. Posisi agency dan PH sama. Sama-sama berambisi untuk memberikan yang terbaik. Tapi masing-masing harus punya porsinya sendiri-sendiri dan menjalankan kewajibannya dengan baik.

Atau kebalikannya. Kreatif ngerasa lebih tau daripada film directornya. Angle, lighting, grading, semua kreatif yang atur tanpa sedetik pun berniat mendengarkan alasan film directornya.. Yah, ngapain juga bayar director mahal-mahal. Ngeshoot aja sendiri! Emang banyak sih, film director yang bertingkah seperti layaknya Diva. Seolah dia-lah dewa atau dewinya jagad iklan televisi. Semua mesti bikin sesuai maunya dia. Kalau enggak, offline ditinggal. Sial buat agency. Gak ada pilihan lain selain mengandalkan executive producer dan producer.

Masih banyak yang sebenarnya pengen gue tulis. Tulisan ini cuma ingin membuka sebagian dari sekian banyak ganjalan yang gue rasakan. Bisa jadi gue gak obyektif. Tapi, gue punya prinsip. Kalau gue gak mau 'digituin' klien, ya jangan 'gituin' PH.

Penulis : Glenn Marsalim

ReviewReviewReviewReviewReviewTukang SemirOct 10, '06 9:07 PM
for everyone
Category:Other

Siang itu tadi temanku tiba-tiba nelpon. "Makan siang yuk?" ajaknya.

"Oke!" ,jawabku.

So she picked me up at the lobby of Jakarta Stock Exchange Building. Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan di mana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang. Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya.

Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa. Kami pesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kamipun ngobrol.

So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget.

"Semir om?" tanyanya.

Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk...Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir (sudah mulai ramai). Lalu pandangannya kembali kosong.

Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami. Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu. Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.

Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi...Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan, dibeberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu...Kami pun selesai makan. Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahu ku jasa nyemir biasanya 2 ribu rupiah.

Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".

BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan haknya. Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Se-ri-bu Ru-pi-ah.

Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari dia. Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilakuku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi ke aku, yang sudah berkelebihan.Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang ini aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka. Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.

Link

ReviewReviewReviewReviewMau Pake Jilbab Malah Dilarang!Oct 10, '06 4:51 PM
for everyone
Category:Other

Ada seorang teman saya, suatu hari terpanggil untuk memakai jilbab. Karena hatinya sudah tetap, dia pun pergilah ke toko muslim untuk membeli jilbab. Setelah membeli beberapa pakaian muslim lengkap bersama jilbab dengan berbagai model (maklum teman saya itu stylish sekali), dia pun pulang ke rumah dengan hati suka cita.

Sesampainya di rumah, dengan bangga dia mengenakan jilbabnya. Ketika dia ke luar dari kamarnya, bapak dan ibunya langsung menjerit. Mereka murka bukan main dan meminta agar anaknya segera melepaskan jilbabnya. Anak itu tentu merasa terpukul sekali...bayangkan : Ayah ibunya sendiri menentangnya untuk mengenakan jilbab.

Si anak mencoba berpegang teguh pada keputusannya akan tetapi ayah ibunya mengancam akan memutuskan hubungan orang-tua dan anak bila ia tetap berkeras. Dia tidak akan diaku anak selamanya bila tetap mau menggunakan jilbab. Anak itu menggerung-gerung sejadi-jadinya. Dia merasa menjadi anak yang malang sekali nasibnya.

Tidak berputus asa, dia meminta guru tempatnya bersekolah untuk berbicara dengan orang tuanya. Apa lacur sang guru pun menolak. Dia mencoba lagi berbicara dengan ustad dekat rumahnya untuk membujuk orang tuanya agar diizinkan memakai jilbab... hasilnya? Nol besar! Sang ustad juga menolak mentah-mentah. Belum pernah rasanya anak ini dirundung duka seperti itu. Dia merasa betul2 sendirian di dunia ini. Tak ada seorangpun yang mau mendukung keputusannya untuk memakai jilbab.

Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan kartu truf terakhir. Dia berkata pada orang tuanya, "Ayah dan ibu yang saya cintai. Saya tetap akan memakai jilbab ini. Kalau tidak diizinkan juga, maka saya akan nekat! Saya akan bunuh diri."

Sejenak suasana menjadi hening. Ketegangan mencapai puncaknya menyelimuti keluarga itu. Akhirnya sambil menghela napas panjang, si ayah berkata dengan lirih,

"Bambang! Mek wong wedok sing karepe ngono. Kowe lanang la'po nganggo jilbab?"



Link

ReviewReviewReviewReviewReviewKepsek Narsis vs Siswi Al-IzharSep 13, '06 4:58 PM
for everyone
Category:Other
Awalnya agak kaget anak SMP udah bikin blog dengan gaya bahasa centilnya. Gw makin terkejut saat mulai menyimak tiap entry-nya. Mulai Om Pol vs Mega, Pak Kepsek Kesetrum hingga Papih, Aku Takut Preman!.
Cerita-ceritanya kocak mampus, mengalir lancar dan gayanya orisinil banget.

Yak, singkat cerita... inilah favorit gw.
Dikutip aja ya, dari My Blog isn't Private Anymore tapi gw ganti jadi Kepsek Narsis vs Siswi Al-Izhar di review ini. Saran gw, baca entry Pak Kepsek Kesetrum dulu, baru deh baca tulisan di bawah ini.

My Blog isn't Private Anymore *Mengutip Seseorang*


Di suatu hari yg indah, Tsasya meng sms Astari :
"astari sumpah lo kocak abis!"

lalu Astari membalas:
"Apanya yg kocak?"

Lalu Tsasya jawab :
"Blog lo diprint dan dipajang di mading lantai 1. Sumpah kocak abis, walaupun udah pernah diceritain tapi tetep kocak.Pokoknya 100 buat elo."

Astari :
*shock*

Pada saat itu gw bersama para penghuni ruang om senang sdang bercengkrama di ruangan tsb. Abis dpt sms itu, kita smua langsung sprint ke lantai 1 *skalian latian buat olahraga*, dan sesampainya di garis finish *halah* maksudnya mading lantai 1, gw langsung lemes.

Ternyata, post gw yg berjudul "Pak Kepsek Pun Kesetrum" yg bercerita mengenai prestasi membanggakan gw yg menyetrum pak otong kumis jaelani (OKJ) dg si lori sinting dipajang dg begitu indahnya dan judulnya diSTABILO dg warna kuning dan oleh pak OKJ diTANDATANGANI dan diatasnya ditulis : TERIMAKASIH YA.

Tersangka utama: mister debi firdaus sani lewenusa. *Krn gw & Anin pernah diam2 menggunakan internet di komputer lab elektro utk membuka blog kita berdua dan dg bodohnya history-nya gak kita hapus.*

Gw pun langsung bertandang ke lab elektro dan menuntut pertangungjawaban, namun sayangnya bukan pertanggungjawaban yg gw dapatkan, malah ditertawakan dengan amat sangat puasnya.

Astari : *Masuk lab bagaikan kuda ngamuk*
MrDeb: Kok tampang kamu mencurigakan gitu?
Astari: Jangan sok gak tau
MrDeb: Lo emang saya gak tau!
Astari: Postingan sy yg "Pak Kepsek Kesetrum" dipajang di mading lt 1!
Anin: Udah gitu ditandatanganin pak J trus ditulis "Terimakasih ya"
MrDeb: *ketawa setan*
MrDeb: Bukan saya yg majang! Masa saya sejahat itu! Harusnya kamu bangga lo anjani, gak semua orang blognya dipajang di sekolah & ditandatanganin sama pak OKJ!
MrDeb: *ketawa setan lagi*

Wadoh, bangga banget yah.

Usut punya usut, ternyata memang bukan MrDeb yg ngeprint postingan itu, tapi ternyata Mbak Uci (sekretaris skolah) yg ngeprint. Jadi, ceritanya mbak Uci & pak OKJ lagi ngegugel *bahasa keren ngesearch di google* dg keywords "al-izhar". Lalu muncullah postingan laknat itu.

Dan pak OKJ sangat bangga krn namanya muncul di blog salah satu murid sekolahnya.

Dan dia minta mbak Uci utk ngeprint dan majang postingan itu di mading.

Dan karena gw adalah siswi teladan yg pemaafbaikhatidantidaksombong *memfitnah diri sendiri*, gw pun akhirnya nyolong spidol artline berwarna biru dari lab elektro dan membalas ucapan terimakasih pak OKJ dengan menulis di mading lt 1:

"Kembali"
Hehe.


pic : dengan sukses diembat dari postingan Dance of the Dead, lihatlah.... mereka menemukan kesenangan baru bermain air. gara-gara berhasil menciptakan jenis olahraga baru yaitu, balet air. he, he...


ReviewReviewReviewReviewBrokeback MountainFeb 26, '06 11:38 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Diawali keterlambatan tiba di 21, tiada pilihan lain selain memutuskan kata-kata jaminan mutu "Best Pictures" yang tertempel di poster film ini. Tak ada resensi, tak ada bocoran sedikitpun tentang film garapan Ang Lee ini.

Ini bukan film koboi seperti yang gw tebak. Melenceng jauh dari perkiraan gw. Ditambah pula adegan-adegan awalnya adalah perjalanan Ennis Del Mar (Heath Ledger) dan Kack Twist (Jake Gylenhaa) menggembala ternak majikan mereka di pegunungan Brokeback yang indah. Bayangkan ratusan domba yang menyemuti lembah, anjing penjaga yang galak dan dua koboi gagah di atas kuda. Brokeback ternyata benar-benar masih liar. Del Mar harus jatuh bangun mendapatkan kuda yang panik dan memunguti lagi perbekalannya gara-gara berpapasan dengan seekor beruang.
Gambar indah dan suasana tegang lantas berubah pada suatu malam. Sebotol wiski, hawa dingin dan kesepian di hutan yang sunyi ternyata memang kombinasi yang buruk. Dari sinilah konflik cerita Annie Proulx menjadi terasa orisinil. Dua koboi mabuk bergelut mesra dalam tenda sempit.

Ennis dan Jack memang kemudian menikah dengan pacar masing-masing. Ennis malah sudah punya dua anak perempuan saat Jack bertandang untuk pertama kali ke rumahnya di Wyomming. Setelah itu hasrat rindu selalu menuntun langkah koboi-koboi ini ke kantor pos, sekedar mengirim kabar lewat selembar kartu pos. Kejadian cerai yang klasik di Amerika pun dialami Ennis. Sempat berpacaran dengan Cassie, seorang pelayan bar, pun tak mampu menghilangkan romansa Ennis kepada Jack.

Ada yang menyedihkan saat Ennis makan malam dengan sang mantan istri, Alma dan suami barunya, Monroe. Di dapur, usai makan, Alma mencurahkan sesak yang selama ini dipendamnya bertahun-tahun.
"Kamu tidak pernah memancing kan? Tas yang kamu bawa pergi memancing bersama Jack itu kubeli 5 tahun lalu itu labelnya masih ada. Padahal di tas itu kuletakkan secarik pesan. 'kamu tahu aku suka ikan. bawakan aku ikan troat yang banyak ya. I love u.' Suatu hari kamu pulang dari memancing, pesan itu masih ada. Kamu selalu membual berhasil mendapat ikan yang banyak dan menghabiskannya di sana. Aku tahu, kau tidak pernah memancing kan?!?"

Ohya, mungkin harus lihat kanan-kiri atau tahan celetukan kamu jika menyaksikannya di bioskop. Siapa tau ada dua orang laki-laki duduk bersampingan di jejeran bangku kamu.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help