Bulan ini Emak ulang tahun yang ke-49, persisnya tanggal 5 Des lalu. Lalu hari ini, 22 Desember, Emak dan ibu-ibu di seluruh negeri mendapatkan kehormatan melalui Hari Ibu. Namun di tradisi keluarga gw ga ada cerita tuh seremonial begituan, hehe. Biasa aja.Mak tetap bekerja seperti biasanya. Bangun pagi, masak buat sarapan Bapak, mencuci piring, belanja buat makan siang, kemudian masak lagi sambil diselingi menonton telenovela. Saat jam makan siang tiba, Bapak ngacir dari kantor. Pulang sebentar ke rumah dinas. Menyantap lauk-pauk yang udah disiapkan sang istri (ciyegh..hehehe). Ritual makan siang berdua itu disambi menyimak berita di tv. Kalau Bapak kumat 'penyakit malas'-nya alias ogah kembali ke kantor, dengkuran 100 dB itu bakal mengamini ucapan perpisahan newsreader. Tibalah giliran Mak yang menelepon ke kantor, bilang kalo Bapak ga ke pelabuhan lagi.
Bisa ditebak kejadian berikutnya. Kurang dari setengah jam biro pemerintah itu langsung kosong melompong. Yang heboh pas Bapak tiba-tiba ingat ada janji dan bergegas bangun dari tikar rotannya... kembali ke tempat kerjanya yang udah sepi orang. Besok pagi para pegawai, tua-muda, didamprat habis-habisan. Tanpa ampun! Sejak saat itu tiap Bapak ketiduran, Emak akan nelpon dan mewanti-wanti supaya anak buah Bapak tidak pulang sebelum jam bubaran. Dalam diam dan ketenangan Emak, kadang para pegawai itu lebih respek jika bertamu dibanding dengan Bapak yang kaku dan pemberang.
Empat puluh sembilan tahun umur Emak, dan gw masih bersyukur mereka masih sehat. Ga tambun, ga kerempeng. Hmm.. mungkin ini semua karena selama bertahun-tahun Mak dan Bapak menggarap kebun di Bengkulu dulu.
Emak gw yang tamatan SPG tidak memilih menjadi guru sejak menikah dengan Bapak. Mak gw yang mulai beruban melego emasnya demi ambisi Bapak membeli ladang di kabupaten yang jauh dari kota. Mak percaya dengan rencana-rencana Bapak, seperti biasanya Bapak selalu punya banyak ide gila dan Mak pun jarang protes. Emak bersama Bapak menebas hutan karet dan gulma (rumput malaysia)... menanam bibit pohon demi masa depan anak-anaknya, berkeringat mengumpulkan kayu bakar... memasak sayur daun singkong dari halaman pondok, berteman dengan gelap dan lembab udara lembah... dan terkekeh mendengar siaran RSI (Radio Singapura bhs Indonesia) cuma itu hiburan malam Emak karena cuma ada tiang PLN di pinggir jalan tanpa jaringan listrik. Empat puluh kilometer dari pondok, Bapak pun hidup serba melajang lagi karena tak mungkin meninggalkan kewajiban PNS-nya. Sabtu-Minggu barulah dengan motor GL Max plat merah-nya Bapak meluncur ke pondok dengan membawa sembako secukupnya.
Gw pernah hampir setahun hidup di tengah kebun, dunia antah-berantah itu. Tanpa internet. Tanpa listrik. Tanpa teman. Tapi ada Emak di sana yang menyambut gw ketika pertama kali tiba diantar Bapak. Tersedu ia memeluk gw karena rindu yang bertubi selama pelarian setahun gw sebelumnya. Sesaat setelah drop out dari kampus pertama, gw melarikan diri dari amarah Bapak dan mengabaikan rindu Mamak. Itu enam tahun yang lalu.
Gw masih ingat, saat itu gw rikuh seolah dipeluk orang asing.
Ya... Mak, ini anakmu. Rambut gondrong, ransel butut, celana jins cuma yang melekat di kaki dan baju kaos yang bisa dihitung dengan jari. Pagi itu juga Mak menarik tangan gw, menuruni lembah menuju bilik kayu. Di balik kepungan papan-papan kayu itu ternyata ada ada sumur alami. Entah kenapa gw gak malu ditelanjangi Emak. Dalam bahasa ibunya, ia bersenandung sambil terisak-isak. Mengguyur gw yang telah jongkok kedinginan. Pasrah. Tangan Mak yang mulai berkeriput mulai mengusap kepala gw. Bibirnya merapal doa panjang, tanpa henti... seperti gayung di tangannya yang terus menumpahkan air di atas ubun-ubun gw. Bapak hanya melihat dari atas bukit sambil berkacak pinggang. Sebagai anak, gw merasa moment itulah gw seperti Malin Kundang namun batal dikutuk orangtua.
Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Mak sepertinya ingin menumpahkan marah dan rindunya sekaligus pagi itu. Remasan geramjarinya di ujung rambut dan kulit kepala gw...tapi tak sesering usapan lembutnya di dahi. Ritual buang-sial itu diakhiri pelukan ibu-anak. Air tanah bercampur airmata menggenangi tiap senti kulit badan ini, pasti bisa mengering. Tapi kasih... tangisan dan rapalan doa Mak menghunjam hati gw yang paling dalam. Betapapun, gw gak perlu berlari karena suatu kesalahan besar... karena orangtua tetaplah orangtua yang menerima anak mereka apa adanya.
Mak, gw masih butuh ritual itu. Kali ini bukan gw pengen buang-sial, tapi karena gw ternyata masih butuh pelukan erat Emak.
Mungkin tahun depan, keluarga kami harus punya ritual lain yakni merayakan hari Ibu. Dapur Mak harus rela diobrak-abrik gw...nih. Seperti kejadian belasan tahun yang lalu. Telur, plastik, tepung dan botol merica berceceran saat Emak mempercayakan menu makan siang kepada ayam goreng tepung ala Bryan.
Met hari Ibu, Indonesia!
