Ini tulisan seorang sahabat di komunitas yang sudah setahun ini gw tinggalin. Tiap Desember, gw selalu ingat cerita ini. Dalem banget, kata gw sih.. Mohon maaf bagi yang udah pernah baca. -o-
Jodoh, lahir dan mati sudah diprogram.
Lantas bagaimana bila jodoh sudah di dapatkan, kelahiran keturunan akan berlangsung, tetapi siapa yang bisa menolak kematian di saat bahagia?
Blue Christmas
24 Desember 2001
Dear Rose, Selamat Natal aku ucapkan.
Semoga damaiNya menyertaimu dan orang orang yang kamu cintai :) Menjawab pertanyaanmu, kenapa aku berharap Natal tahun ini bukan Natal yang biru? Hhmmm, panjang ceritanya. Mau dengar? September 1995 Aku pulang ke Indonesia setelah empat tahun bekerja di States pada sebuah perusahaan international terbesar di bidang beverage. Mungkin salah satunya yang suka kamu minum dan tersimpan di lemari esmu :)
Tahun yang hebat. Aku pulang dengan membawa berjuta mimpi indah yang siap untuk diwujudkan. Belum termasuk pekerjaan yang telah menantiku di Jakarta yang tak kalah menariknya. Saskia, calon istriku yang cantik sudah menantiku dengan penuh kerinduan di bandara saat aku menjejakkan kakiku kembali di tanah air. Kupeluk ia erat-erat. Ada setitik airmata di sudut matanya."Nan, aku merindukanmu."
Aku membeli sebuah rumah mungil ke Lippo Karawaci, mendesain interior dan mengisi perabotnya bersama kekasihku. Sampai pada suatu malam saat kami selesai dinner berdua,
"Sas, siap menjadi pendampingku dan ibu dari anak anak kita?" aku berbisik lembut di telinganya. Matanya terbeliak sesaat sebelum mulai berkaca-kaca. Sebuah senyum keharuan menghiasi bibir tipisnya."Ya..."
From this moment, life has begun.
from this moment, you are the one.
Right beside you is where I belong.
From this moment on...
Sas cantik sekali dalam gaun pengantin broken whitenya. Melangkah anggun dalam genggaman tangan ayahnya, menghampiriku di depan altar sebuah kapel kecil di Daly City, selatan San Francisco.
I, d'Artagnan, take thee,
Saskia, to be my Wife. To have and to hold, in sickness and in health, for richer or for poorer, and I promise my love to you forevermore.
I, Saskia, take thee,
d'Artagnan, to be my Husband. To have and to hold, in sickness and in health, for richer or for poorer, and I promise my love to you forevermore. (And indeed, our life has begun.)
Kugenggam tangannya memasuki honeymoon suite kami di Grand Hyatt Hotel. Di depan kamar, kupondong tubuh mungilnya dalam rengkuhan tanganku yang hangat dan ia tertawa bahagia. Kubimbing ia mendekati ranjang pengantin kami yang berhiaskan kelopak-kelopak mawar. Ia terpekik girang kala mendapati kelopak mawar itu membentuk kalimat "Happy Honeymoon" dan serentak memelukku. Perlahan kurebahkan Sas di antara buraian mawar merah itu.Cadar pengantinnya tersingkap di belakang kepalanya. Kukecup bibirnya dengan lembut dan ia segera menyambutnya. Lama kami berpagutan, lidah kami saling bertaut.
Tak melepaskan belitan lidahku dengan lidahnya, aku mulai melolosi sarung tangan putih yang kupakai dan meraih tangannya. Kutarik perlahan sarung tangan rendanya agar aku dapat mengelus tangan kekasihku tanpa penghalang secarik kain.Kupandangi wajah Saskia yang merona merah dadu saat ia melihatku mulai melepas kemeja putih dan tuxedoku dengan sedikit tergesa. Lalu kubelai lembut kepalanya dan kuciumi rambut hitamnya yang tergerai sebahu, menguarkan keharuman yang hanya dimiliki seorang Saskia. Tanganku mengusap punggungnya dan menarik turun retsleting gaun putihnya. Gaun itu dengan cepat meluncur turun dan jatuh teronggok di lantai parquette. Sas mulai mengerang lembut, saat bibirku mulai menyusuri leher jenjangnya yangkuning langsat, turun ke dadanya sembari memagut kecil kulitnya yang halus. Kukulum lembut puncak bukit ranumnya yang berwarna coklat muda bergantian dan ia makin liar meremasi rambutku. Bibirku meluncur ke bawah membelai pusarnya dan jariku perlahan menarik turun lingerie putih berenda yang masih dikenakannya."Oh Nann..." ia menggeliat saat dirasakannya bibirku kini perlahan menelusuri paha bagian dalamnya, menggelitik lipatan lutut dan terus naik ke atas sambil sesekali kumainkan lidahku dalam pengembaraannya di tubuh pengantinku. Kubelai semak kecilnya yang rimbun yang kini mulai terasa lembab dan perlahan dua jariku menyibakkan bibir luarnya. Dengan lembut kuhisap tonjolan daging kecil di antara dua lipatan itu dan kulihat mata Sas separuh mengatup merasakan kenikmatan yang diberikan belaian lidahku. Wajahnya mengerut menahan serbuan rangsangan yang kuberikan padanya dengan penuh kelembutan.
Kurasakan tonjolan daging kecil itu kini mengeras dan mengacung tegak. Warnanya merah terang dan bibir yang melipatnya di kiri kanan tampak berkilat oleh cairan kenikmatannya yang hangat dan berbau khas. Lidahku dan bibirku terus menari, menggelitik, menghisap, menggigit kecil bagian bawah tubuhnya. Sas makin mengelinjang dan mulutnya menceracau mendesis menyebut namaku seiring desakan kenikmatannya makin tinggi minta dilepaskan, yang tak lama kemudian menghantarnya menuju luapan ekstasenya yang pertama. Ia meregang dan merintih.
Pinggulnya menyentak ke atas seolah ingin melepaskan timbunan hasrat yang sedari tadi ditahannya. Aku merasakan kelelakianku menggeliat ingin bertemu dengan miliknya. Kudaki tubuhnya yang terlentang dan kutatap matanya yang mengerjap indah.
"I'll be very slow," bisikku padanya. Ia tersenyum dan mengangguk perlahan, tatapan tanpa katanya seakan berucap, "Aku pun menginginkanmu." Aku dapat merasakan hati dan tubuhku bergetar saat untuk pertama kalinya, tubuh dan jiwa kami bersatu. Mata Sas kini terpejam dan dahinya sedikit berkerut. Bibirnya mendesah dan merintih menyebut namaku.
Kugenggam jari-jari tangannya dan mencengkeramnya makin kuat seiring naiknya hasrat kami berdua. Sesuatu yang panas mulai menjalari kejantananku, makin mendesak untuk dimuntahkan. Liang kenikmatan Sas berkedut makin cepat. Sang naga makin liar menggeliat, liang kehangatan yang melingkupinya makin panas dan licin. Dan akhirnya lava itu meletup bersamaan dengan erangan kami berdua. Aku rebah di sampingnya, berkeringat dan tersengal. Sas merebahkan kepalanya di bahuku.
"Aku mencintaimu, pengantinku," bisikku di telinganya. Ia tersenyum manja dan makin menyurukkan kepalanya dalam dalam di ketiakku seraya memejamkan mata. Sas dan Nan... Bersimbah peluh dan bahagia.
Pulang ke Indonesia, sebuah rumah yang mungil telah menanti dan mendekornya bersama adalah salah satu kegiatan yang sangat kami nikmati. Di antara kesibukan kami berdua, akhir minggu banyak kami lewatkan berdua di rumah, mengecat dinding, memesan mebel tambahan, nmembersihkan kolam ikan, dan merawat taman mungil di depan rumah.
Hidupku lengkap sudah saat di suatu pagi di awal bulan Desember, Sas memberikan sebuah kejutan manis dalam kotak kecil bertali emas. Ia memberiku kecupan selamat pagi dan berbisik, "Ini hadiah Natalku buatmu. Kamu jangan nagih lagi ya?" seraya tersenyum penuh arti. Mataku masih berkerjap dan separuh mengatup saat kutarik talinya dan kubuka kotaknya dengan tidak sabar.
"Sas, nggak sabar banget, ini belum Natal, sayang." Yang menungguku di kotak itu mengenyahkan sisa kantuk yang masih menggelayut. Aku terpekik girang dan serta merta memeluknya erat-erat.
Sebuah test pack dengan tanda positif.
"Sas, terima kasih."
Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa seorang pria bisa merasa begitu bahagia dan sempurna. Apalagi yang aku cari? I am content emotionally and financially. A terrific wife, a decent job, a place called home and soon a baby will be borned from her womb. I shall have no more to ask.)
Dua hari menjelang Natal aku dan Sas bermobil berdua ke Puncak untuk belanja cemara dan poinsettia (di sini lebih dikenal dengan kastuba), dua tanaman khas Natal yang diidamkannya. Di sana tanamannya murah dan bagus bagus. Sas sibuk memilih kesana kemari dan kami pulang kembali ke Jakarta pukul lima sore dengan dua cemara dan berpot-pot kastuba merah di bagian belakang mobil. Sepanjang jalan Sas bernyanyi riang mengikuti lagu lagu Natal yang diputar di CD player mobil.
"I have a blue Christmas without you. I feel so blue thinking about you." Mata Sas separuh terpejam oleh senandung lirihnya sendiri, meningkahi alunan lagu yang dinyanyikan Celine Dion.
"Hey, why blue? Jangan nyanyi yang sedih-sedih ah. Ganti Rudolph the Rednosed Raindeer aja," selaku di antara kesibukan menyetir. Sas terkikik perlahan dan tangannya mulai sibuk memindahkan lagu dalam CD player.
"I'm dreaming of a white Christmas. Just like the one I used to know."
"Nahh, that's much better!" sambutku.
Selintas ada perasaan aneh singgah, melihat kegemaran Sas belakangan ini yang suka menyenandungkan lagu-lagu sentimentil bahkan untuk yang bertema Natal. Sesampai di daerah Ciawi mobil-mobil banyak yang berebut arus satu arah ke arah Jakarta menimbulkan kemacetan yang cukup panjang. Sesampai di pertigaan Ciawi tiba-tiba ada mobil yang mendadak muncul dengan kecepatan tinggi dari Taman Safari ke arah Puncak (meskipun jelas dilarang karena masih jam 5 sore lewat beberapa menit).
Jalan di situ menurun dan aku menjalankan Peugeot 505 GTI-ku dengan kecepatan tinggi. Sas tidak memperhatikan arah datangnya mobil jahanam itu karena ia asyik dengan hobinya, menatapku sambil jemarinya memainkan cuping telingaku.
Dari sudut mata aku melihat laju kencangnya dan aku cuma bisa terkesiap. Peugeot kesayanganku itu bukan hanya berhenti, tapi justru selip dan menghadapkan Sas dengan mobil itu yang langsung menghantamnya dengan keras! Tak terhindarkan lagi.
Tabrakan hebat! Aku dan Sas sama-sama memakai seatbelt. Tapi justru seatbelt itu membuat empat tulang iga Sas patah dan kakinya terhimpit dashboard yang menjorok masuk ke kabin. Kepalaku pun menghantam kaca jendela samping sampai kacanya pecah dan kaki kananku patah. Kami berdua dibawa ke RS PMI di Bogor. Saskia pingsan tapi aku dalam kondisi sadar dan tahu apa yang terjadi. Dari sana kami dipindahkan ke RS Siloam Gleneagles Lippo Karawaci karena Sas harus dioperasi dadanya. Ternyata paru-parunya luka parah.
Saat itu aku telah berpasrah padaNya, apalagi setelah melihat Sas meregang nyawa dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Aku terus berjaga di sampingnya sampai akhirnya tanggal 24 Desember Sas tiba-tiba membuka matanya. Ia menggenggam tanganku. Matanya memandangku dengan tatapan penuh cinta dan bibirnya tersenyum.
Detik detik berikutnya seolah merangkak perlahan.
Aku seakan bisa merasakan gerakan kecil tangannya yang berusaha menggenggam tanganku yang tak lepas memegangnya. Aku bisa mendengar bunyi mesin monitor detak jantung perlahan menurunkan iramanya, menemani saat-saat terakhirku bersama Sas di dunia.
Aku bisa melihat jelas ketika mata Sas terbuka beberapa detik dan menemukan kedamaian di sana.
Aku seolah bisa melihat sinar yang lama kelamaan menjadi temaram di matanya dan merasakan genggaman tangannya yang melemah. Bunyi beep dari pulse monitor machine itu seperti musik pengiring kematian, membuatku tergugu dalam tangis diam.
Perlahan matanya mengatup dan mesin itu meninggalkan bunyi panjang tanpa putus. She passed away, brought my 3-months old baby embryo.
I'll have a blue Christmas without you
I'll be so blue thinking about you
Decorations of red on a green Christmastree
Won't mean a thing if you're not here with me
I'll have a blue Christmas, that's certain
And when that blue heartache starts hurting,
You'll be doing all right with your Christmas of white,
but I'll have a blue, blue Christmas.
Saat itu dari luar kamar rumah sakit, di sepanjang koridornya mengalun sayup-sayup lagu Blue Christmas, ditingkahi kerlip-kerlip pohon Natal di ruangan perawat.
Inikah arti tanda-tanda yang selama ini kerap mengusik hatiku? Pesan samar yang ingin disampaikannya? Lagu itu, hadiah Natalnya yang terlalu awal?
Dengan tangan dingin Saskia masih dalam genggamanku. Kudaraskan doa Bapa Kami yang selalu ia lantunkan dengan merdu setiap misa hari Minggu, di telinganya yang mungil.Our Father in heaven, holly be your Name Your kingdom come, Your will be done on earth as it is in heaven. Dan menutup doaku, berbisik kepadaNya,
"She's all yours, dear God".
Selamat jalan bidadariku. Tanggal 26 Desember Sas dimakamkan. Enam tahun berlalu sejak itu terjadi. Baru dua tahun terakhir aku bisa menerimanya sebagai suatu kenyataan tanpa bertanya-tanya atau pun berandai-andai lagi.
Walaupun saat ini aku mendapati mataku masih berkaca-kaca saat menuliskannya kembali, rasa pedihnya tidak lagi menyayat seperti dulu. Satu hal yang menghibur dan menguatkanku, Saskia dan bayi kami mendapat tempat yang layak di sisiNya.
They are my two guardian angels.
Time indeed heals.
Dan kukira, itulah mengapa ibuku menamaiku d'Artagnan, sang ksatria sejati. I am still standing tall.
Blue Christmas once does not mean blue Christmas forever.
Peace be with you
D'Artagnan
Catatan Rose:
d'Artagnan, thank you