i3log

Blog EntryDay 2Dec 3, '07 7:37 AM
for everyone
Hari kedua di Pontianak. Ketiban sial.

Hunting dgn anak-anak deviantart, menyusuri perkampungan di Kapuas. Dari Serasan hingga Mesjid Jamik. Siang sebelumnya ke TPI alias Tempat Pelelangan Ikan di Jeruju tapi kini kebanyakan kapal phinisi yang berlabuh. Komoditi yg dibawa perahu-perahu kayu ini kebanyakan semen. Di Sungai Kapuas gw setengah berlari mengejar rombongan penyelam yang baru tiba dengan barang-barang temuannya. Ada beberapa benda berharga lho. Dirubung anak-anak kecil yang narsis minta difoto berkali-kali sampe batre kamera kami hampir habis. Jepret sana sini dan dihentikan azan maghrib.

Pulang. Singgah sebentar makan burger dan es sari kacang (khas Pontianak) di Jln Gajah Mada.
Mau bayar.. ngeluarin duit dr kantong, lho kok ada lima puluh ribuan...? Terlipat dgn manisnya, digenggam jari-jari yang kebingungan. Tiba-tiba aja terbang, melayang... nyungsep dan dengan gemulainya masuk di antara jeruji besi got.

Kampret.
Setelah nyodok dgn besi yg ada kaitannya, dibantuin tukang parkir segala... Si goban akhirnya terendam perlahan, persis Jack di film Titanic. Bedanya ini bukan lautan es, tapi comberan sampah tebal nan bau.

Supra X akhirnya dibawa sama temen gw yg kebetulan nebeng bareng pulang. Lemes. Rasanya ga rela duti segitu lenyap di genangan comberan.

Pak Corneliiis.... benerin dong tuh sampah, dan satu hal lagi. Ga usah pake jeruji besi gitu napa sih... untuk nutupin got? Tukang es sari kacang sempat cerita kl minggu lalu ada pengunjung yg kehilangan kunci motornya karena terjatuh dan nyemplung plung ke got.
Ini pekerjaan rumah (yang mungkin remeh) buat gubernur baru Kalimantan Barat!

Blog EntryKembali ke PontianakDec 2, '07 11:13 AM
for everyone
novel Medley habis gw baca selama perjalanan. novel yg mendadak dibelikan si pacar sepulangnya dari kebaktian tadi pagi (cupz buat my baby Ijoli!).

cuaca buruk. dua kali peringatan memakai mengencangkan sabuk pengaman selama terbang. terguncang-guncang kyk naik kereta. komat kamit berdoa. untung ga ada penumpang yg panik. dan lebih bersyukur lagi saat pilot Sriwijaya, kapten Sasongko, mendaratkan roda di bandara Supadio.

hati gundah. meninggalkan si pacar tercinta yang selama 3 bulan ini bareng-bareng gw terus... (ya, minus perjalanan dia ke Korea sih, hehe). entah kenapa, proses pacaran setelah setahun itu makin menunjukkan karakter kita masing-masing. udah ga ada lagi jaim-jaimnya sekarang. bener-bener lepas. saat-saat marah, letih, bete, pe-em-es, ngantuk, pengen disayang, pengen digombalin, pengen dipijet...apalagi. ehehe.

begitulah, kembali ke warnet blackboxx yg isinya teman-temans gila. memperebutkan kaus emily. mulai mengatur rencana hunting foto lansekap lagi. yayaya... semoga masih sempat, mengingat mulai minggu ini gw akan mengerjakan order fumigasi di salah satu pabrik karet di pinggir kota.

kangen kamu beib.

rindu mengecup keningmu dari atas pagar rumahmu.

Blog EntryHawa Jakarta NamparNov 26, '07 12:53 PM
for everyone
Gw ga tau dengan kalian, tapi udah 3 hari ini gw ngerasain hawa kota Jakarta kini makin panas aja. Keluar deh jam 10 pagi, kalo ga kulit terasa seperti ditampar matahari...saking panasnya. Gandakan level gerahnya jika lo keluar jam 12 siang.
Lebih-lebih lagi kalo loe lagi di dalam bis kota, keringet udh bukan keringet jagung lagi.. keringet jengkol kale.

Kenapa yah?
Apa beneran dunia makin panas?
Seinget gw cuaca kayak gini pernah gw rasain waktu di Pontianak. Tapi kan Pontianak itu kota khatulistiwa.
Duh. Kaki gw jadi belang gara-gara street hunting pake sendal melulu.


Blog EntryLebihOct 22, '07 10:26 AM
for everyone
kau beri satu
kubalas dua
kau pinta tiga
kubalas lima

ini bukan deret bilangan prima
hanya memberi lebih dari yg diminta


Blog EntryRindu BiruOct 1, '07 12:41 AM
for everyone

di sini panas telingaku mendengar caci maki supir angkot
ada bis terbang di atas jalan membalap bis yang satu rute
itu bikin ciut
apakah si abang supir ga alpa mengecek remnya tadi pagi?

dan satu lagi, mungkin ga nyambung sih, langit penuh polusi...

teringat awan berarak di langit khatulistiwa yg biru
bikin rindu kembali ke pontianak
menghabiskan sore yang jingga di atas motor
melahap ujung jalan dengan santai
menyaksikan matahari tergelincir sambil menyeruput es sari kacang

-tiga hari lagi-

(foto toilet umum di belakang rumah betang, jln. ayani 2, pontianak)



Blog EntryIbu Mau Pipis?Sep 26, '07 12:26 AM
for everyone
Pagi-pagi gw udh duduk manis di bawah pohon rindang, halaman sebuah playgroup di kawasan Kemang. Mesti menunggu model cilik yg rupanya ketiduran. Playgroup mempunyai tembok bata setinggi bahu orang dewasa yang membatasinya dgn area parkiran/antar-jemput. Orangtua atau pengasuh rupanya hanya boleh mengantar sampai di pagar aja. Dua orang guru berdiri berjejer seraya mengucapkan salam pada tiap anak yang baru tiba.

Gw mau cerita soal bangunannya dan mainan apa aja yg ada di dalam. Tapi nantilah, gw fotoin aja supaya lebih gampang. Yang pengen gw cerita adalah bagaimana guru-gurunya membangun rasa percaya diri sang anak dengan cara yang positif. Seorang anak perempuan tergopoh-gopoh turun dari sedan, membawa ransel merah yg terlihat cukup berat. Sang papa hanya melambaikan tangan dari balik kaca jendela. Sementara teman-teman si Ransel Merah yang berdiri mengantri masuk di bibir pagar rata-rata diantar orangtua, saudara atau baby-sitter. Si Ransel Merah tetap mengantri. Saat gilirannya, nada ucapan selamat pagi dari para gurunya berubah lebih merdu dan panjaaaang, ditambah pujian... Gw pikir mungkin karena Si Ransel Merah berani masuk sendiri tanpa diantar papanya.

Sesi foto candid pun dimulai. Model saya memilih baju pink dengan bawahan rok biru hari ini.  Setelah pemotretan model cilik dari balik tembok dengan 'anu' saya yg kalo pendek 7,5 cm dan panjang 30cm itu, gw meminta izin untuk lebih dekat lagi. Kali ini dari dekat gazebo tempat si model yg hari ini sedang disuapi makanan oleh Ibu Guru, serta teman perempuannya yg duduk membelakangi gw. Uhm, eh... teman si model juga lucu banget mukanya. Cantik! Matanya, bulu-bulu di lengan dan lehernya... (plaks! Bry, inget..motret, jangan ngencess...) Ok, ok, buat yg penasaran lihat deh foto di pojok kanan atas ini.

Si lengan berbulu dan si model pinky duduk di bangku imut sedangkan Ibu guru duduk di bangku sedikit-tidak-imut dan agak jauh.

Lengan Berbulu : Mau masak ga?
Model pinky : Mauu..
Mereka nyamperin wastafel dan mulai pura-pura nyuci sesuatu.

Ibu Guru : Ibu mau masak apa?
Lengan Bulu : Mau masak nasi goyeng...
Ibu Guru : Jangan pedes-pedes ya bu. Udah ada wajannya belum, bu?
Lengan Bulbul : Belum, tolong bantu carikan yahh... (How sweet... anak ini diajarin sama  siapa ya?)

Model Pinky sibuk ngemut susu botolan, tampaknya membiarkan dapur dikomandoi oleh si Lengan Bulu.
Ibu Guru sibuk mencari wajan di lemari. Model pinky menggeser kompor. Lengan bulu berdiri bengong, lalu menggaruk (maaf) selangkangannya. Ibu Guru yg lekas tanggap, mungkin dia juga sadar kehadiran gw di dekat mereka, bertanya, "Ibu mau pipis?"
Si Lengan Bulbul menggeleng perlahan malu-malu.... Aduh, mak.. ekspresinya itu yg ga nahan untuk bilang.. gw pengen lekas punya anaaaaaakkk!!! Whoaa...


Blog EntryNarsis Hari IniAug 24, '07 4:32 AM
for everyone



Blog EntryTentang Nini KaroJul 23, '07 10:50 PM
for everyone
Nama lengkap perempuan berumur 70an tahun itu Djihen br Karo. Lahir tanpa tahu persis tanggal, bulan dan tahun karena saat itu masih jaman perang. Katanya masa itu adalah masa susah makan, jadi tak perlu menambah kerumitan mengurus dokumen lahir. Nini muda yang cantik setiap pagi harus pergi ke ladang sebab beliau besar di keluarga petani. Menikah muda dengan Bolang* dan hidup bahagia dengan tiga orang anak - Emak, Mama Tengteng, dan Mama Budi. Aku tak pernah melihat Bolang. Pria bertubuh tinggi nan tampan yang bekerja di perusahaan telekomunikasi itu tak berumur panjang. Suatu sore, beberapa orang membacok Bolang di rumah. Emak sudah duduk di bangku SMP saat tragedi itu, sedangkan adik-adiknya masih SD. Nini sedih tapi tak larut terlalu lama. Janda beranak tiga itu membuka usaha warung kopi, kembali mengurus sawahnya, dan belakangan membuka usaha kost-kostan. Di rumah kost inilah Bapak kenal dengan Emak, pacaran hingga akhirnya menikah. Waktu pesta pernikahan adat Bapak-Emak, Nini menyerahkan kasur dan bantal sebagai kadonya. Nini bilang, satu kasur berarti susah-senang tetap tidur bersama. Emak menangis. Sebabnya selama prosesi di sela jemari Nini selalu terselip rokok dan itu artinya Emak akan tak punya waktu banyak untuk memperingatkan Nini lagi.

Ni Karo memang perokok kelas berat. Seingat Emak, Nini mulai mengisap kretek sejak muda. Panamas adalah merk rokok lokal yang selalu terselip di bibir Nini. Aku sering jahil menjilat ujungnya setiap kali berkunjung ke rumah Nini. Nini akan melotot lalu menghardikku dengan mimik yang lucu. Hampir tiap akhir minggu aku, kakak, dan Emak membantu Nini di warung kopi. Nini melayani pecandu-pecandu kafein itu dengan mengenakan kaus dan sarung kain. Recehan ada di laci warung tapi lembaran rupiah tersimpan di buntalan dalam kutang Nini. Meski buta huruf, Nini tak pernah keliru berhitung. Sesekali aku diajari berhitung dengan menggunakan uang. Tiap cucu-cucunya pamit pulang, Nini selalu menyelipkan uang puluhan ribu - saat itu harga secangkir kopi cuma tiga ratus perak. Nini tetap royal memberi 'salam tempel', Emak protes tapi tangan Nini terus terulur buat kami. 'Ada uang jajanmu? Mau beli apa?' adalah pertanyaan Nini yang kusuka.

Perhatian Nini bagi cucunya tidak melulu soal uang. Waktu adikku divonis epilepsi, Nini datang membesuk dan rela naik bis dua hari dari Medan karena Bapak berdinas di Bengkulu. Nini hadir dan menari di hari pernikahan kakak meski sudah mulai bungkuk, katarak dan terganggu pendengarannya. Saat semua orang mengecam riwayat sekolahku yang kacau, cuma Nini yang menguatkan hati, 'Pasti kau nanti jadi orang. Gak usah peduli mereka bilang apa. Eh, lit sen ndu**?' Hihihi.

23 Juli 2007
Senin subuh, perempuan tua itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sendirian di ranjang rumah sakit.
Aku di kamar saat suara lemas Emak terdengar dari celah pintu, 'Nini Karo sudah meninggal'. Bapak mengabarkan berita duka itu. Mungkin adik-adik Emak tak ada yang punya nyali menelepon sang kakak. Anak sulung yang tinggal jauh dari ibunya sejak Nini stroke 5 tahun lalu, lalu lumpuh, dan mengidap borok di dekat anusnya dua bulan terakhir ini. Emak pergi ke dapur, meneruskan mengiris kentang. Beliau berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur. Kupeluk Emak dari belakang dan kami menangis tanpa kata-kata. Airmata kesedihan dan sesal karena tak hadir saat detik-detik terakhir saat Nini hidup. Siang itu juga Emak kuantar ke bandara.

'Wajah Nini cerah, senyumnya lebar banget. Nini meninggal dengan bahagia, Bry...' kakak terisak di ujung telepon langsung dari samping tubuh Nini.

Bibir hitamnya nan kering akibat puluhan tahun mencandu nikotin itu mengulas sebuah senyum. Senyum yang penuh arti, kurasa. Mungkinkah Nini tersenyum simpul begitu melihat Bolang sudah berdiri menunggunya. Nini mungkin akan menemukan rokok kesayangannya di sana, tapi Bolang pasti akan melarangnya.

Maaf, cucu bandelmu ini tak bisa menari*** hari ini.

Peluk-cium untukmu, juga untuk John Ricci & Rika - kalian pasti sudah besar ya di sana?
Istirahatlah dengan tenang Nini Karo-ku, Bolang pasti sudah menyiapkan kasur istimewa untuk kalian tiduri bersama... :)



Catt. :
*) Bolang = kakek, Nini = nenek (bhs Batak Karo)
**)  Eh, ada ga uangmu?
***) Sesuai adat Karo, orangtua yang meninggal selayaknya dibuatkan acara gendang-gendang. Keluarga inti akan menari mengelilingi mayat tsb.

Blog EntryPenggosip itu Harah JadamJul 17, '07 9:30 PM
for everyone
Udah denger belum dukun di sini bisa ngerjain dari jarak jauh hanya bermodal selembar foto?
Oh, ga pernah denger.... Yaya, iyalah, lha nulis aja masih keliru, persis usaha fotokopi di dusun yang hobi keliru memajang plang jenis usahanya. No wonder. Hehe.

Nah, denger ya baik-baik wahai tukang gosip.... Foto-foto elu udh gw print nih. Tergeletak dengan manisnya di dalam bungkus amplop putih. Nama lengkap elo tertulis rapi di bagian atasnya.

Yap. Gw kesel. Tapi masih bersikap logis dengan menunggu konfirmasi dari beberapa orang yang diserempet penggosip ini di suatu personal message.

So, kalau positif... Jangan bingung dan jangan marah ya kalau tiba-tiba dokter vonis elo leukimia stadium 4 tapi elu masih bisa jalan ke toilet, masih bisa duduk normal...tapi itu gak lama.


Oya, udah pernah denger lagi belum...
Kalau di sini dukun voodoo di sini berguru hingga ke di Afrika?

Eh, apa... ga tau benua Afrika ya? Oh, mainannya Eropa mulu sih. Haha.
Oh, tau tho. Bagus. Lho, kenapa itu teman-temanmu digiring ke jurnal ini...? Disuruh ngintip perkembangannya ya? :) Psst, mbak dukun lagi kirim-kiriman email bentaran. Iya, cewek lho. Kan emansipasi....

Blog EntryBalik KandangJul 16, '07 8:07 AM
for everyone
Hujan deras pagi-pagi. Sungai Arut tampak memutih dari gudang plymill Korindo Pangkalan Bun. Aku hanya duduk saja di atas tembok nanggung sambil menghirup kretek. Hujan deras, rokok, namun  tanpa ditemani kopi memang bukan situasi ideal. Di area fumigasi, para helper sedang bersimulasi memasang terpal dan tetek-bengeknya untuk fumigasi selanjutnya. Sengaja gw menularkan ilmu terakhir yang didapat dari pelatihan di Makassar guna kelancaran kerja mereka sendiri nanti. Sesekali aku hanya berteriak memberi semangat dan membetulkan prosedur yang keliru.

Kurogoh hp dari saku wearpack. Tigapuluh menit. Lumayan cepat untuk persiapan fumigasi volume 100 kubik komoditi.

Kukirimkan sms.
- Boss, gw balik ke Ponti lusa ya. Yg gantiin gw dtg bsk aja spya smpt ktemu dl. Anak2 gw suruh simulasi trs hr ini.
- Ok, bsk dia pk Trigana Air. Jgn lupa jmpt. Dsni sdg repot krn ada auditor dr Jkt.

Siyal. Masa aku disuruh jemput orang baru.
"Gus, besok jemput bos baru ke Iskandar!"
Mantan sales sabun colek yang kupungut itu mengangguk cepat. Laki-laki ceking nan jangkung itu tak perlu bertanya jam berapa... karena hanya ada satu jadwal penerbangan di ibukota kabupaten Kotawaringin Barat ini.

Orang baru. Pengganti. Tampak mengiris kulit ego. Pontianak memang lebih menjanjikan order yang lebih banyak daripada kota yang udah sepi di atas jam 8 malam ini. Namun tetap aja rasanya aneh. Entahlah.

So, Pangkalan Bun... sampai berjumpa lagi ya kapan-kapan. Mungkin nanti. Aku masih belum kesampaian hunting foto ke Taman Nasional Tanjung Puting. Dan buat model-model dadakan ku yang udah lulus SMU/SMK, kalian jangan mentok jadi SPG doang dong ahh.... Huhuhu.

PS : Jes, Bear, fotografer rusuh ini akan menjajah Pontianak lagi! Yippie!!

Blog EntryCeloteh LiburanJul 12, '07 8:55 AM
for everyone
Target : Warung Tegal
Misi : Membasmi nasi rawon dan es jeruk
Waktu : Matahari di atas kepala dengen derajat kemiringan sekian

Sanex kuparkirkan persis di bayangan pohon jambu. Kacamata hitam minggat ke saku baju, saat pandangan menyapu isi warteg. Semua mata terkesima pada layar televisi. Infotainment siang itu menyiarkan berita kematian seorang pelawak yang mobilnya apes dihantam fuso. Lihatlah, betapa kami mencintai dan akan mengenangmu selalu Taufik Savalas!

Sembari menunggu pesanan ayam goreng dihidangkan, kusedot es jeruk. Rawon siang itu ludes dipesan serombongan keluarga. Di depan mejaku, seorang bocah laki-laki berambut kriting sedang berceloteh tentang liburannya di Jakarta.

"Jadi kamu cuma ke PRJ aja?" tanya usil pamannya.
"Iya, soalnya Ancol banyak kali orangnya...." jawab si kriting.
"Kalo gak ke Ancol, itu ga ke Jakarta namanya!" cecar si paman asal. Hehe, aneh juga. Masa iya sih, tempat wisata di jakarta cuma Ancol?

"Tapi kami ke Gajah Mada Plaza!" sahut si kriting ga mau kalah set.
"Lha, kalian tinggal dimana sih? Kok ke gajah Mada?"
"Hayam Wuruk...."
"Haha... Lho itu kan pertokoan."
"Ya  pokoknya deket-deket situlah. Cerewett kalii pun Pak Uda ini!!" kali ini tangan si kriting sudah berkacak pinggang. Aku geli sendiri.

Nasi dan ayam gorengku sudah datang.
"Iya, iya, trus ke Ragunan gak?"
"Nggak."
"Taman Safari?"
"Nggak."
"Lho, kok ngga kesana sekalian? Ga liat binatang dong?!"
"Ngapain sih? Orangutan di belakang kebun bapak lebih lincah daripada monyet sana. Ular di sawah tetangga kita lebih buas daripada ular dalam kandang yang males-malesan!" jawab si kriting dengan lantang.
Aku dan 'Pak Uda' terbahak.

Gila emang Pangkalan Bun ini. Pernah suatu sore gw menyusuri jalanan batas kota lalu terpekik kaget saat seekor ular berwarna hijau menyeberang aspal dengan anggunnya.
Sepertinya itu juga sebab kebun binatang mini yang ada di kota ini cuma didatangi pasangan muda-mudi. Mereka hanya ingin tempat sepi untuk bermesraan. Bukan hendak menghitung jumlah warna kulit ular atau memberi pisang buat orangutan.


Blog EntryBlah Blah....Jun 21, '07 9:23 AM
for everyone
-beep-

"Bryan, kamu Senin tanggal 25 jangan pulang dulu ya. Ikut pelatihan manajemen mutu di Jakarta. Udah didaftarkan kok, tinggal check-in aja."

"Tapi kan saya baru selesai pelatihan manajemen teknis di sini tanggal 24 Juni. Lagian bukannya harus orang yang berbeda? Teknis dan mutu ga bisa dipegang satu orang...."

"Ah sudahlah, itu cuma formalitas doang."

Blah! Tujuh hari pelatihan fumigasi standar Badan Karantina Pertanian di Makassar dan begitu selesai gw khusyuk mendengarkan instruktur cuap-cuap selama seminggu lagi?

Apes banget gw. Pelatihan, pelatihan melulu tanpa jeda. Ternyata makan seenak apapun di restoran, seempuk apapun bed kamar hotelnya... teteup aja warung tenda dan kasur di kamar yang jadi juara. Dan yang terpenting, secara gw baru kali ini ke Makassar, gw BELUM sempat hunting foto. Saban sore baru selesai, dan pantat udah males diajak jalan-jalan kecuali kepepet kayak malam ini. Karena gw udah suntuk banget ga ada hiburan selain televisi kamar. Lain cerita kalau ada si pacar (hai kamu! iya kamu yang selalu ga PD dgn perutmuh ityu) kan bisa dijahilin. Hihihi...

Syukurlah, besok tinggal assesment aja. Doakan saya ya temans... Denger-denger assesornya suka nanyain pertanyaan ga penting. Misalnya, mengapa alat monitor itu bentuknya kotak? (Kalo bulet ya menggelinding dong ah pak...)

Blog EntryMahal?May 3, '07 12:46 AM
for everyone
Harga loe kemahalan, Bry.
Ok, budget loe berapa?

Sorry, gw akhirnya ngambil tawaran temen nyokap.
Ooh...

Dibantu banyak deh pokoknya. 500ribu.
Foto & video sehari penuh?

...
...
Hah, lima-ratus-ribu??
Tiba-tiba gw gak berani ngebayangin foto dan hasil editan video pernikahan sahabat gw itu. Teringat pula percakapan calon suami & kliennya di suatu ruangan tentang suatu bisnis ratusan juta. Dan gw pun gagal menemukan korelasi antara pilihan 500ribu dan bisnis ratusan juta. Mungkin dokumentasi peristiwa seumur hidup itu buat mereka nggak terlalu penting. Heheh.

Blog EntryKetangkap Basah setelah Tujuh TahunApr 17, '07 10:11 AM
for everyone
Sejak tahun 2000, awal gw ngerokok baru sekarang kegep ma bokap. Sial. Padahal tujuh tahun ini gw mulus banget curi-curi waktu buat nyemok kl lg di rumah, kantor atau dimana pun saat bapak ada di sekitar gw. Sampe akhirnya 40 menit lalu gw lg enjoy ngejogrok d warnet tercinta, bapak datang hendak ngambil kunci rumah yg terbawa ma gw.... Duh. Ketangkep basahnya bukan di kamar gw, bukan di kamar mandi, atau loteng atas rumah kontrakan, tapi di warnet. Mana banyak orang lagi.... Tengsin berats. Hiks. Untung ga ada cewe cakep, heheh.... (Piss, beib..piss....)

"Heh!! Sejak kapan kau ngerokok?"
Gw cuma cengar cengir, tapi filter masih nyelip di jari kiri. Jari kanan lagi login di YM.

"Nanti pulang sendiri kau! Bapak ga mau jemput!"
Wah, apes banget. Mana di luar lagi gerimis ga jelas gini... Hiks.

(Sedang berpikir keras gimana caranya pulang jalan kaki di trotoar yg gelap gulita sepanjang satu kilometer lebih....Dan harus siap basah pula....)

Blog EntryApesFeb 12, '07 4:06 AM
for everyone
Sejak 1997 gw motret, belum pernah berurursan dengan pak polisi. Benar-benar pengalaman yang gak terlupakan. Apalagi kapasitas gw sebagai pendatang di Pontianak ini.

Ceritanya dimulai saat gw dan rekan fotografer hunting foto model di suatu rumah tua. Benar-benar rumah yang nyeremin karena halamannya penuh semak belukar dan dinding rumahnya pun penuh sarang laba-laba. Pemotretan pun dimulai setelah model selesai dandan jam 9 pagi. Matahari cukup bersahabat. Model lumayan kooperatif. Semuanya lancar sampai waktunya pemotretan selesai. Kami semua pun keluar halaman. Tiba-tiba aja tiga polisi berseragam menghampiri kami. Ada dua polisi berpakaian preman juga yang menyusul. Seorang diantaranya berteriak, "Minta KTPnya!". Seorang lagi memerintahkan agar kami mengikuti mobil mereka. Aku dan teman yang memotret hari itu hanya saling menoleh dan bengong. Ada apa gerangan? Apa boleh buat, KTp sudah di tangan pihak aparat. Konvoi mobil pun terjadi. Mobil akhirnya belok di kantor polsek.

Rupanya ada warga yang mengadukan kehadiran kami pagi itu kepada pihak polisi. Dicurigai ada transaksi atau pemakaian narkoba di rumah kosong itu. Tidak itu saja, polisi galak yang minta KTP tadi bercerita bahwa tahun 1998 telah terjadi peristiwa horor di salah satu ruangan. Bunuh diri dengan menggantungkan lehernya di seutas tali. Rekan gw memang sempat melihat tali masih tergantung di sebuah ruangan. Kontan gw bergidik. Gw sama sekali gak menyangka bahwa lokasi pemotretan model gw itu ternyata adalah rumah hantu!! Hiiy....

Urusan beres tanpa penahanan sementara. KTP dikembalikan setelah kami memberikan alamat dan no telepon. Akhirnya pemotretan yang direncanakan di jembatan Kapuas 2 pun tidak dilanjutkan. Mood udah keburu drop. Huhuhu....

Btw, modelnya sempat melihat penampakan di file foto gw. Nantilah gw upload..... Huhuhuhuhu....

Blog Entry[DRAFT] Suster OralitJan 30, '07 4:40 AM
for everyone
Perjalanan pulang Bandung - Jakarta dua hari lalu tak akan terlupakan buat gw. Bukan karena aspal Cipularang licin diguyur hujan sedari sore. Bukan pula disebabkan Xtrans yg gw tumpangi meliuk ke kiri dan ke kanan karena mengejar tenggat-waktu. Tapi karena sejak siang di Bandung gw mun*** dan men***!! Entah berapa kali gw udah meninggalkan jejak di toilet Rumah Stroberi. Untunglah jarak toilet dan tempat makan lesehan di atas bukit stroberi itu cukup berdekatan. Tapi tetep aja badan gw lemes, perut dingin, dan kepala mulai pusing.
Irene yang menjadi partner travelling kali ini cukup repot merelakan pahanya jadi bantal. Menu chicken soup yg gw pesan hanya bisa dicicipi 2 sendok aja. Benar-benar gak nafsu makan sama sekali! Akhirnya perut yg mulai dingin ditimpa teh manis aja.

Blog EntryGa mudikDec 22, '06 4:47 AM
for everyone
Merry Xmas, Bry..
thx ya.

Ga mudik?
...
...
nggak.
btw, elo orang ke-30 yang nanyain itu hari ini.




Natal tahun ini bener-bener natal yang paling menyedihkan.

Jadwal trip Jakarta-Puncak-Bandung, tunggakan beberapa website, dan portfolio foto hampir kelar. Hujan di luar kamar membuat perut harus mengalah untuk tidak diisi.

Jalan sore di gang yang becek. Lapar berat, warung chinese food jadi tujuan. Di simpang gang, ada tukang es krim parkir. Iseng beli es krim yang pake roti. Biar kata nenek makan sambil jalan itu pamali, cuek beibeh.
Eh... es krim warna merah meleleh di kaus putih karena kertas rotinya robek.

Lagi sibuk mengibas bekas es krim yg lengket di kaus Don't Bite|Suck, tiba-tiba melaju angkot brengsek... menciprat kaki hingga celana pendek. Arrrgh...setelah es krim, sekarang air kubangan mengotori celana abu-abu kesayangan gw!!

Lalu lintas macet di jalan Rawabelong. Angkot sontoloyo itu terjebak. Bergegas gw lari sambil tetep megang es krim... (Ng...belakangan gw baru nyadar, adegan ini mungkin gak ada garang-garangnya. Bayangkan seorang cowok berjanggut tipis, rambut rada gondrong, berkaus belel dan celana pendek, memegang es krim yang udah ga karuan bentuknya sambil berlari mengejar angkot sial tadi. hihihi...)

"Woi, punya mata ga loe!"
"Maaf bang. Maaf."
"Enak aja lo maaf, maaf. Gw baru mandi tauk!" (emosi berat deh pokoknya tadi. tapi teteub... tangan kanan es krim warna merah, tangan kiri ngegedor pintu si supir. angin sore mengibarkan rambut gonjes gw... aish.... mantab lah kayak sinetron murahan itu! kekekekek...)

Makan gak nafsu. Kaki masih berasa lengket air kubangan. Piring nasi gw udah ludes, tapi lauk sisa setengah porsi lagi.
"Koh, bungkus aja dah. Sama nasi deh setengah ya? Bungkusin semua."
Engkoh gendut itu menyiapkan plastik bening untuk ikan kakap lapis cumi gw.

Warung rokok.
Masih mikir dua kesialan beruntun tadi, eh rokok yg gw nyalain baranya mendarat di jari tengah kiri. Alamak pedesnya...

Sial.
Tanggal berapa sih hari ini ?!?



Blog EntryDiduga Stres, Lompat dari Lantai 2Nov 21, '06 12:48 PM
for everyone

Terkantuk-kantuk turun dari bis full-sauna. Lampu merah, kami hendak menyebrang. Nona mandor mengumpat pada pengendara motor yg keukeuh menerobos. Cuma bisa terperangah. Bibirnya manyun. Lelah bekerja dan ingin lekas pulang rupanya bukan kombinasi yg baik saat jalur penyebrangan kita dijajah motor brengsek.

Metromini ngetem. Penumpang cuma lima orang, stok kesabaran mulai tipis. Tapi kenapa supir dan penumpang mendongak ke arah ruko di sebelah ya? Beberapa orang yg melintas di pinggir jalan jg menempelkan badan di pagar berjeruji. Semuanya melihat kerumunan di salah satu satu bangunan berlantai 4.

"Ada apa, Bang?" tanyaku penasaran.

"Ada orang stres, tuh!"

Penasaran. Bangkit dari bangku dan berdiri di pintu metromoni.

Seorang wanita histeris duduk di bawah jendela lantai 2. Menendang-nendang kaki ke arah jangkauan para satpam ruko yg hendak menariknya turun. Beberapa kepala perempuan tampak mengintip dari jendela yg sedikit terbuka.

"Stres kenapa tuh?"

"Udah 3 bulan di sini tapi belum dikirim ke Arab," bang supir sudah turun rupanya, ikut menyaksikan drama penyelamatan. Nona mandor dan para penumpang lainnya juga sudah berdiri memanjangkan leher layaknya penonton konser. Hehe....

"Oalah...."

Tiba-tiba teringat suatu daerah di kampung melayu, beberapa rumah sekaligus jadi tempat penampungan TKW gelap. Tiap pagi mereka berkerumun di balik pagar tinggi sebuah rumah, mengasongkan mangkok kosong pada tukang bubur keliling yg kebetulan lewat. Atau sekedar tawar-menawar sayur pada tukang sayur keliling. Wajah-wajah lelah. Mungkin semalam mereka berhimpit-himpitan tidurnya. Mungkin juga mereka mulai kehabisan uang. Bisa jadi mereka rindu kampung halaman, suami...keluarga...anak.

 

Si perempuan stres akhirnya berhasil diturunkan secara paksa. Semua kembali ke tempat duduk, bang supir pun sudah di joknya. Metromini melaju melewati Bukit Duri yang sepi....

Tarrriikk....


Blog Entry[DRAFT] Remove Contact [Multiply ver 3.0 Effect]Nov 17, '06 2:20 AM
for everyone

Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help